Kiat Menang Lomba Foto

Rabu, 06 Des 2017Arbain Rambey

Menang dalam sebuah lomba foto adalah dambaan para penggemar fotografi. Selain meraih hadiah yang menarik, kemenangan itu adalah sebuah tanda pencapaian untuk tingkat tertentu. Di satu sisi, kalau kita menang dalam sebuah lomba foto, artinya foto kita (setidaknya di mata juri) lebih baik daripada foto peserta lain.

Sebaliknya, kekalahan dalam sebuah lomba bukanlah berarti foto kita buruk. Foto yang kita sertakan dalam sebuah lomba mungkin sangat bagus, namun ternyata ada yang foto yang lebih bagus lagi.

Walau begitu, ada beberapa kiat agar kita bisa memenangi sebuah lomba foto. Tulisan ini memang dibuat berdasarkan pengalaman menjuri puluhan lomba foto, namun tulisan ini bukanlah jaminan bahwa setelah membacanya Anda akan menjadi juara sebuah lomb. Diharapkan, setidaknya setelah membaca tulisan ini Anda punya pemahaman lebih baik dalam mengirimkan karya ke sebuah lomba, serta mencegah kemubaziran. Banyak sekali foto peserta yang langsung dibuang panitia karena tidak menaati syarat-syarat lomba.

Satu hal terpenting yang harus diingat kalau akan mengikuti sebuah lomba foto, yaitu: penilaian foto adalah masalah selera, bukan matematika. Baik atau buruknya sebuah foto sangatlah relatif tergantung siapa yang menjadi juri. Kenyataan lapangan juga  menunjukkan, ada sebuah foto yang gagal total di sebuah lomba, namun di lomba lain malah meraih medali emas.

Yang pasti, tidak pernah ada rumus untuk bisa menang dalam sebuah lomba foto sebab kemenangan kita ditentukan mutu foto saingan kita. Sebagus apa pun foto kita, kita tidak akan menang kalau ternyata ada foto yang lebih bagus. Sebaliknya, sejelek apa pun foto kita, kita bisa menjadi juara kalau ternyata saingan kita lebih jelek lagi.

Peserta sangat banyak

Hal pertama yang harus diketahui calon peserta sebuah lomba foto, yaitu untuk lomba tertentu pesertanya bisa sangat banyak. Sebuah lomba foto balita tahun 90-an pernah menerima jumlah foto peserta sampai sekitar 100.000 foto.

Anda mungkin bingung tentang berapa lama penjurian 100.000 foto itu bukan ? Jangan heran kalau ternyata 5 juri cukup memerlukan waktu sekitar 4 jam saja untuk menyelesaikan penjurian. Bagaimana bisa ?

Dalam sebuah lomba, tidak semua foto dinilai. Kalau saja semua foto dinilai, bisa-bisa sebuah lomba harus dijuri selama seminggu, dan jurinya lalu pingsan kelelahan. Penilaian foto hanya dilakukan pada foto yang  dianggap “layak”. Nah, masalahnya, bagaimanakah definisi “layak” itu ?

Di sinilah subyektivitas selera juri bermain. Hal pertama dalam sebuah penjurian lomba foto adalah, para juri mengambil foto-foto yang mereka anggap layak naik ke babak berikutnya. Jadi, tiap juri mengambil foto-foto dari tumpukan 100.000 foto itu, lalu menyisihkan yang dianggapnya “lebih baik” serta membuang yang dianggap “lebih buruk”.

Perhatikan Foto 1 yang menunjukkan proses tahap pertama penjurian Lomba Foto Satwa 2007 di Taman Safari Indonesia di Cisarua, Jawa Barat. Pada lomba ini para juri memilih foto yang dianggap layak dari 3092 foto yang dibentang di lantai sebuah gedung.

Foto 1

Mari kita pakai Lomba Foto Satwa nasional 2007 yang dijuri 5 orang sebagai studi kasus. Saat itu tiap juri diberi “jatah” mengambil masing-masing 30 foto, maka dari 3092 foto itu akan terpilih 150 buah foto. Kenyataan lapangan menunjukkan, biasanya juri cuma mengambil di bawah jumlah jatahnya. Lomba foto mana pun selalu menunjukkan bahwa cuma sekitar 0,5 sampai 10 persen foto yang mutunya di atas lainnya. Dengan kata lain, lebih dari 90 persen foto dalam sebuah lomba umumnya sudah kelihatan sebagai pecundang sejak awal.

Untuk tahap pertama tadi, bisa jadi ada juri yang tidak jujur, misalnya memilih foto milik saudaranya walau buruk ke babak berikutnya. Namun ini bukanlah masalah karena pada pada tahap kedua, para juri diminta “membuang” sebagian dari foto yang terpilih pada tahap pertama tadi. Kalau dari tahap pertama terpilih 150 foto, setiap juri diminta membuang masing-masing 10 foto sehingga tinggal tersisa 100 foto saja.

Jadi, foto yang buruk tapi lolos tahap pertama akibat KKN, pasti akan tersisih di tahap kedua. Dua tahap tadi adalah dua tahap terpenting dalam sebuah lomba foto. Tahap selanjutnya bisa dilakukan dengan menilai foto satu persatu, bisa pula menyusutkan lagi jumlah foto yang dinilai.

Kelompok Satwa

Pada penjurian Lomba Foto Satwa 2007 itu, kelima juri lalu memilah-milah foto yang sudah lolos dari dua tahap awal. Foto mamalia dikelompokkan dengan mamalia, foto burung dengan burung, reptil dengan reptil, dan seterusnya.

Mengapa ini dilakukan ?

Pengelompokkan dilakukan agar tidak terjadi juar satu sampai ketiga mamalia semua misalnya. Kalau ini terjadi, sungguh buruk lomba ini. Jadi, lomba apa pun tidak semata mengadu mutu. Variasi juga perlu dilihat. Ada satwa yang mudah difoto, dan ada satwa yang sulit difoto. Pertimbangan ini juga diambil.

Maka, bisa terjadi kasus seperti pada Lomba Foto Satwa 2004. Foto 2 karya Jimmy Yuwono harus menjadi juara harapan. Sementara Foto 4 karya Dibyo Gahari yang secara umum dinilai kalah bagus dengan Foto 2 bisa menjadi juara II. Foto 2 telah kalah disisihkan Foto 3 yang jadi juara I. Memang Foto 2 lebih bagus dan lebih sulit pembuatannya daripada Foto 4. Namun kalau Foto 2 dan Foto 3 berdampingan sebagai juara, sungguh tidak menarik. Keduanya adalah foto harimau, mirip pula.

Foto 2 karya Jimmy Yuwono

Foto 3 karya Willy Kurniawan

Foto 4 karya Dibyo Gahari

Tetapi, pada Salon Foto Indonesia 2005 di Batam, Foto 2 itu meraih medali emas. Ini adalah bukti bahwa kemenangan atau kekalahan dalam sebuah lomba foto bukanlah hal yang eksak.

Perhatikan Foto 5, yaitu foto Borobudur dilihat dari pegunungan Menoreh. Pada Lomba Foto Borobudur 2006, foto yang mirip dengannya ada lebih dari 1000 buah. Sebagian besar bahkan lebih bagus daripada foto-foto pemenang.

Foto 5 karya Hendro Darmawan

Namun karena masing-masing sangat mirip, tentu tidak bagus kalau ada lebih dari satu foto mirip ini muncul sebagai pemenang. Maka, sesama foto Borobudur dari Bukit Menoreh diadu dulu untuk diambil satu sebagai wakil.

Kalau Anda ikut sebuah lomba foto, ingatlah hal ini. Jangan membuat foto yang kemungkinan juga dibuat orang lain. Buatlah foto yang sama sekali baru.

Foto 6 dan Foto 7 adalah contoh foto Borobudur yang sangat kreatif. Bisa dikalatan kedua foto itu tidak punya saingan yang agak mirip sekali pun. Bahkan Foto 6 yang meraih Grand Prize, sungguh membuat semua juri dan panitia sudah tahu kalau akan menang sejak awal. Idenya sangat segar dan unik.

Foto 6 karya Aries Liem

Foto 7 karya Stephanus Hannie

Foto 8 karya Chris Indria

Syarat Lomba

Sebelum terlupakan, ada hal utama yang harus ditaati peserta pada lomba foto apa pun, yaitu syarat yang tertulis di pengumuman lomba. Memang, ada syarat yang mungkin tidak adil atau tidak masuk akal. Banyak orang yang marah-marah pada syarat sebuah lomba yang menurut mereka keterlaluan seperti: hak foto yang sudah dikirimkan menjadi hak penuh panitia.

Memang banyak syarat-syarat lomba yang tidak menyenangkan. Tapi itu bukanlah masalah sebenarnya. Kalau Anda tidak suka syaratnya, ya tidak usah ikut berlomba. Sebuah lomba adalah kesepakatan antara panitia dan peserta, dan sama sekali bukan paksaan untuk ikut atau tidak.

Orang yang marah-marah pada sebuah syarat lomba itu ibaratnya ingin hadiahnya tapi tidak mau syaratnya.

Dalam banyak lomba, panitia umumnya sudah membuang banyak foto yang masuk sebelum dijuri karena tidak memenuhi syarat. Syarat ukuran foto adalah yang terbanyak dilanggar. Kebanyakan peserta mengirimkan foto dengan ukuran lebih kecil dari yang disyaratkan.

Kalau diminta ukuran 30 x 40 sentimeter, kirimkanlah ukuran itu jangan kurang dan jangan lebih. Ukuran yang berbeda menyulitkan penanganan foto. Sekali lagi, lomba adalah kesepakatan peserta dan panitia, jangan merusak kesepakatan yang sudah ditaati peserta lain. Kalau panitia meminta foto ukuran besar, itu selain memudahkan juri dalam melihat mutu, juga sekadar menyaring agar peserta serius dalam berlomba.

Pada lomba yang cuma mensyaratkan foto ukuran 3R (kartu pos), sungguh amat banyak sampah yang masuk ke panitia. Banyak orang yang coba-coba mengirmkan foto-foto kartu posnya yang mungkin banyak memenuhi meja mereka. Peserta asal kirim saja.

Juga syarat merek kertas foto atau juga jumlah maksimal pengiriman sebaiknya ditaati. Syarat merek kertas tertentu biasanya diambil karena permintaan sponsor. Hormatilah pihak yang mau menyediakan hadiah untuk sebuah lomba. Pamrih dalam bisnis adalah hal biasa. Tidak ada uang, tak ada kegiatan.

Perhatikan Foto 9. Foto ini adalah salah satu pemenang dalam Lomba Foto Waisak 2006. Foto ini tidak bisa meraih Grand Prize karena “bukti” bahwa foto ini dibuat di sekitar Borobudur tidak ada. Foto ini bagus, tapi bisa dibuat di mana pun, bahkan bisa dibuat di rumah kita saja.

Foto 9 karya Petra Wangsadihardja

Untuk lomba yang mensyaratkan tempat, kirimkanlah foto yang memang menunjukkan ciri tempat yang diminta.

Mendapatkan Foto

Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah, bagaimana kita mendapatkan foto untuk dilombakan ?

Itu adalah pertanyaan yang selalu ditanyakan pemula hobi fotografi. Dan jawabannya adalah, banyak-banyaklah berburu foto baik sendiri mau pun dengan teman. Makin sering kita berburu foto, makin terbuka wawasan kita dan makin banyak pula stok foto kita.

Untuk mendapatkan foto yangbaik tidaklah selalu harus ke tempat jauh. Memang, Foto 10 yang menjadi Juara I Lomba Foto Pariwisata Nasional TMII 2005 harus dibuat di Bali. Juga Foto 11 (Juara I Lomba Foto Satwa Nasional 2006) yang pemotretnya harus sabar menunggui dua komodo jantan yang bertarung memperebutkan seekor betina.

Foto 10 karya Mario Andi Supria

Foto 11 karya Kazuo Pontoh

Namun perhatikan Foto 12 yang menjadi juara II Lomba Foto Pariwisata Nasional TMII 2005 yang  cukup dibuat di Jakarta saja. Tari Papua itu tidak dilakukan dalam sebuah pesta adat, melainkan dilakukan sekelompok masyarakat Papua yang mendemo sebuah kebijakan pemerintah. Kita tidak perlu mengaitkan apakah tarian yang kita potret itu sebuah pesta atau demo. Juri semata melihat apakah fotonya “berbau” pariwisata atau tidak, indah atau tidak, memenuhi syarat atau tidak.

Foto 12 karya Ahmad Zamroni

Masih dari lomba yang sama, perhatikan Foto 13 yang cuma dibuat dari sebuah pawai budaya. Orang yang tampak dalam foto tidaklah mewakili suku apa pun di Indonesia. Dia sekadar menempelkan aneka tengkorak hewan di tubuhnya.

Foto 13 karya Tonny Djohan

Juga Foto 14 yang menjadi juara pertama Lomba Foto Toyota Yaris 2007. Kesesuaian dengan tema, yaitu mobil Yaris untuk kaum muda, serta kesederhanaan penampilan, membuat juri sudah memilih foto ini sebagai pemenang sejak pertama melihatnya.

Foto 14 karya Dendy Purnama

Last but not least, apakah foto yang dilombakan boleh diolah digital ?

Sangat boleh. Batasnya adalah, selama foto Anda tampak wajar, itu masih fotografi. Orang sering tidak bisa membedakan antara membuat lebih baik (refining) dan membuat kepalsuan digital. Kepalsuan digital antara lain mengganti latar belakang atau mengganti warna di bagian tertentu.

Foto 13 pun mem “burn” tepi-tepi foto agar tampil lebih menarik bukan ? Itu adalah upaya refining. Dan itu sah.

Tags

Adat IstiadatLombaPenjurianSatwa

Blog Terkait

Foto Terkait